Alhamdulillah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT. Atas segala limpahan rahmatnya sehingga memberikan waktu kepada saya untuk bisa membagikan pengalaman sedikit selama saya berkuliah di Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya. Semoga dengan pengalaman tersebut saya harapkan kepada pembaca bisa lebih memotivasi lagi dalam mentut ilmu dan berkarya untuk agama dan bangsa.
Shalawat dan salam juga tak lupa saya haturkan pada junjungan penghulu alam Baginda Nabi muhammmad SAW yang mana syafaat beliau lah yang selalu saya harap-harapkan dari kehidupan dunia hingga kehidupan alam akhirat kelak.
Ketika berbicara tentang pengalaman yang menarik pada dunia perkuliahan saya punya satu cerita. Cerita ini saya beri judul "Tetesan Air Mata Seorang Mahasiswi" semoga dengan cerita ini bisa memberikan sebuah inspirasi baru bagi kita yang masih menempuh pendidikan di bangku perkuliahan. Pada pagi yang cerah saya mengawali masuk kuliah seperti biasanya, tetapi untuk kali ini kami tidak ada dosen pengajar karena berhalangan hadir. presentasi berjalan seperti biasanya ada moderator, pemateri, penanggap dan teman-teman yang hadir. diskusi hampir berjalan setengan kegiatan, hingga tiba pada sesi tanya jawab, kemudian teman-teman yang lain pada bertanya sementara saya masih memahami alur penyampain materi yang disajikan pemakalah. Perlahan-lahan satu persatu pertanyaan mereka mulai terjawab, hingga memasuki pertanyaan terakhir.
Tiba-tiba saya merasa janggal dengan jawaban seorang pemateri. Awalnya saya meminta kejelasan dari jawabannya, tetapi masih belum menemukan jabawab yang tepat dari apa yang ditanyakan audien tadi. Saya meminta kepada moderator untuk memberikan waktu kepada saya untuk menyampaikan argumen saya, tetapi dia berisi keras bahwa apa yang dia sampaikan itu benar. Mendengar jawaban tersebut, sehingga membuat saya semakin terpancing untuk memeperdalam argumen saya. Selang beberapa waktu terjadilah adu arguemen saya dengan seorang pemateri putri tersebut. Suasana pun semakin memanas, dengan tiba-tiba pemateri putri dengan seketika sontak diam seribu bahasa. Perlahan-lahan saya menatap kearahnya, wajahnya berubah kemerahan. Entah mengapa tiba-tiba dia langsung meneteskan air mata dan terisak-isak menangis di pangkuan teman pematerinya.
Seluruh teman-teman yang lain banyak yang ketawa. tetapi banyak juga yang menatap ke arah saya dengan tatapan yang tidak suka. Pikirian saya mulai gundah dan perasaan bersalah mulai ada di hati kala itu. Ya sudahlah sebagai seorang laki-laki perlahan saya mendekatinya untuk meminta maaf, mungkin saya teralau berlebihan tadi ketika menyampaikan argumen. Tetapi dia menolak dan pergi kebelakang meninggalkan saya. Maka dari itu bubarlah kegiatan presentasi pagi itu dengan dibarengi tetesan air matanya. Selang beberapa hari kemudian saya moncoba mendekatinya kembali untuk meninta maaf dan alhasil, Alhamdulillah saya dimaafkannya dan kami berteman serti biasa lagi.
Hikmah yang bisa saya ambil dari kisah ini adalah perbedaan pendapat itu wajar, tetapi kita juga harus bisa mengendalikan ego kita untuk saling memahami dan mengerti. Cobalah paham untuk mengerti, bukan mengerti untuk dipahami. demikian kisa saya semoga bisa menginspirasi kita dalam dalam bertindak untuk saling menjaga perasaan satu satu sama lainnya.
untuk laman selanjutnya klik di sini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar